Di Bawah Lampu Allianz: Ketika Musim Senja Menagih Janji Takdir
Masih ingat betul, Juli lalu media sesumbar jika Juventus menginginkan kiper berpasspor Brasil. Nama-nama seperti Alisson Becker dan Ederson Moraes santer digaungkan berkali-kali, terutama nama pertama. Tapi, siapa sangka penjaga gawang Brasil yang berhasil didatangkan adalah Norberto Murara Neto.
Ya, Neto nama di punggungnya, seorang penjaga gawang yang sudah melalang buana ke Camp Nou, menembus batas-batas tertinggi kompetisi Eropa. Kini takdir akhirnya menuntun Neto kembali ke titik paling sunyi di Juventus yaitu jadi pilihan kedua.
Usianya sudah 37 tahun, lebih tua setahun ketimbang Mas Wahyu Hidayat. Pria kelahiran Araxa sebelah tenggara Brasil ini ternyata jadi salah satu pemain Juventus yang CLBK (cinta lama bersemi kembali) alias balik lagi. Tentunya usai Fabio Cannavaro, Marin Caceres, Kolo Muani, dan masih banyak lagi pemain yang pergi dan kembali ke Juventus.
Kepulangan ini adalah kombinasi dari pragmatisme industri, krisis darurat, dan balada pesepakbola yang harus berdamai dengan garis senja kariernya. Neto datang lantaran Kamil Grabara yang jadi kiper pilihan kedua harus cedera anterior cruciate ligament (ACL) usai tampil ciamik di Liga Eropa. Sementara Guglielmo Vicario tak mungkin main terus dan Carlo Pinsoglio sayang jika tidak di bangku cadangan, serta pemain muda tak bisa selalu harus bertanggung jawab atas kesialan ini.
Ada beberapa hal menarik yang datang berbarengan dengan tibanya Neto di Allianz Stadium. Beberapa sudah paduka olah di dapur JVGL yang lusuh karena punya 6 chef tapi yang masak dia lagi, dia lagi. Ada satu demen nulis, tapi kalau gak marvel males well.
Rekor Transfer
Neto bisa saja memecahkan rekor transfer jika mengikuti pengetahuan penulis yang cetek akan sejarah sepakbola dunia. Menurut penulis, Juventus bisa saja jadi satu-satunya klub yang mendatangkan tidak hanya 2, tapi 3 sekaligus penjaga gawang baru dalam sekali jendela transfer.
Dua kiper berstatus pinjaman, dan Neto kontrak hingga akhir musim. Dalam sejarah sepak bola modern, belum pernah ada preseden sebuah klub papan atas mendatangkan penjaga gawang berlabel internasional murni untuk diplot sebagai opsi ketiga. Nah, Juventus baru saja menorehkan rekor absurd tersebut.
Langkah Bianconeri memboyong Neto pasca penutupan jendela transfer musim panas mengonfirmasi satu hal: krisis cedera di bawah mistar telah memaksa manajemen mengambil keputusan ekstrem. Di saat klub lain mempromosikan pemain dari akademi muda untuk mengisi slot kiper ketiga, Juve justru membentengi kedalaman skuadnya dengan sosok veteran yang telah mengecap ratusan laga di kasta teratas.
Ini bukan lagi soal efisiensi, melainkan barikade pengalaman yang dibangun di atas keputusasaan. Bagi Juve, prajurit paling belakang tentu harus yang paling berpengalaman garis miring tua.
Kiper Balikan
Delapan tahun lalu, Neto mengemas tasnya dan melangkah keluar dari pintu Turin. Sadar hanya jadi figuran di balik keabadian Gianluigi Buffon, ia memilih pergi. Neto merasa sangat perlu bermain reguler karena keluarganya menunggu ia tampil di layar tv. Bukan malah menonton dia jadi penonton (baca:cadangan).
Namun, sepak bola selalu punya cara paling sarkastik untuk melipat waktu. Setelah bertualang ke Valencia, Barcelona, hingga Botafogo, Neto kembali ke tempat segalanya bermula. Tragisnya, kepulangan ini tidak membawa perubahan takdir. Ia tidak datang untuk mengudeta posisi kiper utama Juve, tapi Neto dipanggil pulang untuk lagi-lagi jadi yang kedua. Lagi-lagi Neto harus mau menjadi pilar penopang di saat darurat, sebuah peran sunyi yang dulu pernah membuatnya angkat kaki.

19 Juta Lapangan Pekerjaan
Pilihan Juventus untuk beralih kepada agen bebas usai pemutusan kontrak Neto di Botafogo menunjukkan betapa riskannya pertaruhan di lini belakang mereka. Di tengah pembicaraan industri sepak bola yang sering kali mengaitkan investasi klub dengan perputaran ekonomi, Juve lebih memilih pemain yang siap dan kesepian tak punya klub.
Ini juga jadi langkah Juve merealisasikan pemenuhan 1 dari 19 juta lapangan pekerjaan di Italia guna mengarungi Serie A. Menghadirkan Neto hingga Juni 2027 adalah bentuk pengamanan aset secara drastis.
Satu kesalahan di bawah mistar akibat krisis kiper bisa mengandaskan ambisi domestik dan Eropa, yang berdampak domino pada finansial klub. Bagi Juve, memungut kembali sang veteran adalah harga mutlak demi menjaga kedalaman skuad tetap bernapas.

