Artikel JVGLNews JVGL

Claudio Marchisio adalah Peter Parker di Universe Juve

Lagi boker ketiban ide soal Peter Pakter. Jangan tanya kenapa ide-ide bagus sering lahir di sana, mungkin karena otak isinya kotoran jadi pas dikosongkan, kepala jadi lebih luang.

Di tengah kepulan asap nikotin, saya malah kepikiran satu hal penting gak penting, “Jangan-jangan Claudio Marchisio itu Peter Parker-nya Juventus.”

Semakin dipikir, teori ini malah makin masuk akal. Mereka sama-sama dicintai setelah pergi, selalu dirindukan ketika keadaan mulai berantakan, tetapi saat masih ada justru sering kalah pamor dibandingkan orang-orang di sekelilingnya.

Peter Parker selalu hidup di balik bayang-bayang Spider-Man. Orang mengingat kostum merah-birunya, aksi bergelantungan di antara gedung New York, sampai pose ikoniknya, tetapi lupa bahwa di balik topeng itu ada pemuda biasa yang hidupnya lebih sering apes daripada mujur.

Marchisio juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda. Ketika orang membahas lini tengah Juventus era emas, nama Andrea Pirlo biasanya keluar lebih dulu karena umpannya yang seperti satelit, Arturo Vidal karena energinya yang seperti minum bensin, lalu Paul Pogba karena karisma dan skill-nya yang selalu mencuri perhatian.

Lucunya, Marchisio justru menjadi pemain yang diam-diam membuat semuanya bekerja. Ia memang tidak selalu tampil sebagai bintang utama, tetapi perannya seperti nasi di warteg; orang sering memuji ayam goreng, rendang, atau sambalnya. Padahal, tanpa nasi semuanya terasa kurang lengkap.

Claudio Marchisio lahir di Turin pada 19 Januari 1986 dan bergabung dengan akademi Juventus sejak usia tujuh tahun. Ia mencatatkan lebih dari 380 penampilan bersama tim utama, memenangkan tujuh gelar Serie A, serta menjadi simbol kesetiaan karena tetap tumbuh bersama klub yang ia cintai sejak kecil.

Ironinya, pemain seperti Marchisio baru benar-benar dihargai ketika sudah tidak lagi bermain. Dulu banyak yang sibuk memperdebatkan Pirlo, Vidal, atau Pogba. Namun, sekarang setiap Juventus kehilangan keseimbangan di lini tengah, nama Marchisio selalu muncul lebih cepat daripada iklan pinjaman online.

Peter Parker juga bernasib sama. Semua orang ingin menjadi Spider-Man yang dielu-elukan warga New York, tetapi tidak ada yang mau menjadi Peter Parker yang kehilangan Paman Ben, hidup pas-pasan, sering dihujat media, dan berkali-kali mengorbankan kebahagiaannya demi orang lain.

Begitulah Marchisio. Semua orang ingin Juventus punya gelandang seperti dirinya, tetapi sangat sedikit yang rela menjalani perjalanan panjangnya, mulai dari akademi, bertahan saat Juventus turun ke Serie B, bangkit dari cedera, hingga tetap setia ketika jalan pintas selalu terbuka.

Mungkin itulah alasan kenapa Claudio Marchisio dan Peter Parker terasa begitu mirip. Mereka tidak pernah menjadi sosok paling berisik di ruangan, tetapi justru menjadi fondasi yang baru disadari nilainya ketika semuanya sudah tidak lagi berada di sana.

Jadi kalian mau jadi Peter Parker atau Marchisio?
I’M BOTH

Ditulis oleh Wahyu Hidayat
Ilustrasi gambar oleh @burungkondor

JVGL

Fino alla fine, forza uhuuuy~