Transfer Senyap Juventus, Hasilnya Anyep?
Transfer senyap Juventus mulai aktif kembali pada 2026 usai Damien Comolli farewell dengan Si Nyonya Tua. Di saat banyak klub memperkenalkan pemain baru bak sunatan anak lurah, tapi Juventus memilih cara lama.
Senyap, salaman, lalu tanda tangan, habis itu lalu lanjut bekerja. Tofu-tofu, Jeff Ekhator dan Zeki Celik sudah resmi menjadi bagian dari Bianconeri. Budaya lama transfer senyap Juventus kembali lagi?
Cara seperti ini justru membuat banyak Juventini tersenyum. Bukan karena kehadiran kedua pemain tersebut, melainkan ini membangkitkan memori masa lalu. Arturo Vidal, Andrea Pirlo, Andrea Barzagli, hingga Paul Pogba direkrut dengan silent treatment. Para pemain itu kemudian berhasil bersinar saat berseragam hitam-putih.
Dari pemain yang kurang dikenal, kecuali Pirlo, kemudian bisa jadi populer karena moncer di Bianconeri. Bayangkan, dari dulu Juventus selalu dirumorkan dengan nama-nama yang itu-itu saja, Domenico Berardi, Edin Dzeko, hingga Axel Witsel. Sampai Arsenal bisa kembali juara Premier League, nama-nama pemain itu masih aja diberitain.
Juventus Miskin?
Sepak bola modern kadang terasa seperti lomba siapa yang paling berisik. Ada klub yang membeli pemain sambil menyalakan kembang api, menyewa videografer, bahkan membuat trailer yang lebih sinematik daripada film bioskop.
Belanja pemain sampai seharga 100 juta euro. Miris memang, bagi banyak klub Italia yang dengan dana segitu bisa aja buat DP stadion baru. Bagi klub liga yang hadiah juaranya enggak jauh beda sama hadiah partisipan klub kasta bawah liga kick and rush, 100 juta euro nominal yang sangat besar.
Namun, transfer senyap ini bukan karena Juventus jatuh miskin. Klub asal Turin itu seperti orang kaya lama, hartanya banyak, tapi tidak merasa perlu memamerkan isi garasi kepada tetangga. Mereka tidak sibuk flexing, tidak haus validasi, apalagi riya’ dengan setiap pemain yang datang.
Dulu saat Juventus merekrut Vidal, respons banyak orang hanya “lumayan juga.” Pasalnya, saat datang bergabung, Vidal bukanlah pemain dengan nama besar. Ketika Pirlo datang secara gratis, ada yang sinis bilang Milan sedang membuang barang bekas. Pogba? banyak yang bilang mirip Balotelli padahal posisi aja udah beda. Why always mie?
Semua berubah ketika beberapa tahun. Yang awalnya tak mendapatkan perhatian publik, jadi pembicaraan khalayak. “Kok Juventus bisa dapat pemain kayak gitu?”. Pirlo belum abis? Pogba dideketin Fiki
Naki.
Begitulah harusnya Juventus bekerja. Tidak menjual mimpi. Mereka menjual proses. Tidak seperti 3-5 tahun terakhir. Juventus kena scam dengan merekrut pemain bergaji besar, tapi kesulitan menjualnya ketika yang bersangkutan tidak perform lantaran gajinya yang terlanjur kegedean.
Dijual ke klub gede, manfaat pemainnya udah gak ada. Dipinjemin ke klub medioker, dibalikin karena dipakai bentar fungsinya gak full.

