Giovanni Carnevali dan Dendam di Rumah Hantu Juventus
Dendam yang Membuat Juventus Berani Berubah
Di situlah perbedaan Carnevali mulai terasa. Jika Comolli lebih dekat dengan jaringan yang sudah dikenalnya dan Giuntoli sempat menghabiskan uang untuk nama-nama besar yang tidak selalu membawa kebesarannya ke Turin, Carnevali terlihat lebih tertarik pada kecocokan daripada kemewahan.
Carnevali melakukan pendekatan layaknya anak kos-kosan, semua dipinjam besok baru bayar. Kolo Muani ditebus penasaran, Kerim Alajbegovic karena masa depan, Vicario karena masuk akal, Openda diberi ruang, Vlahovic diikhlaskan, sementara Woltemade dan Sarr menjadi pintu menuju hari esok.
Semua itu terasa seperti satu ritual panjang untuk membersihkan rumah yang terlalu lama dihuni masa lalu. Carnevali tidak takut kehilangan nama besar, tidak takut mengakui investasi yang gagal, dan tidak takut melihat pemain yang pergi kemudian bersinar di tempat lain.
Sebab pada akhirnya, dendam paling dingin bukan membalas masa lalu. Dendam paling dingin adalah memastikan masa lalu tidak pernah lagi memiliki kekuasaan atas masa depan. Buat fans yang apa apa bayar wasit move on guys, nonton NETPLIK lah.
Carnevali kini berjalan di lorong Juventus dengan palu di tangan. Satu demi satu pintu lama dibuka, satu demi satu hantu diusir, dan satu demi satu kamar disiapkan untuk penghuni baru.
Bayangkan Juventus yang bahkan gak ikut UCL datangkan 9 pemain baru. Continassa mungkin belum menjadi istana, namun setidaknya Juventus sudah berhenti tidur bersama gedebong pisang dari masa lalunya.
Mungkin itulah pekerjaan terbaik yang bisa dilakukan seorang direktur baru, bukan mengembalikan cinta yang telah mati, tetapi membuat klub berani jatuh cinta sekali lagi kepada sesuatu yang belum mereka kenal.
Yaitu Masa Depan. FORZA JUVE
Ditulis oleh Arief Hidayat
Ilustrasi gambar oleh @burungkondor

